This is what I feel

-marwa pipit-

  • 8th August
    2014
  • 08
Left : when I was 4 years old
right : when I was 20 years old

Left : when I was 4 years old

right : when I was 20 years old

  • 6th August
    2014
  • 06

Jaman Sekolah vs Jaman Kuliah

Aku pernah mikir kuliah itu gampang. Aku pernah mikir kuliah itu nyantai, bisa ke sana ke sini sepulang kuliah sama temen. Pernah mikir juga kalok kuliah itu semuanya asyik, temennya lah, suasananya lah, dan everything yang berkaitan di dalemnya.

Ternyata…..

Kuliah itu susah. Beda sama jaman masa putih abu-abu. Di masa SMA/SMK kita bisa akrab sama temen kaya sodara, bisa saling bantu dan kompak. Nggak kaya di perkuliahan, semua diwarnai dengan keegoisan dan ‘ingin menang sendiri’. 

Beda sama jaman di sekolah dulu, dulu selalu denger kata-kata :

"nih catetanku, salin aja."

"nih tugasku, liat aja gapapa."

"pulang bareng yuk?"

"ada tugas ini, ngerjain bareng yuk?"

"kamu nggak bikin tugas itu? yaudah aku juga nggak bikin ah."

"eh itu disuruh ngumpulin data ini, kamu udah? aku tungguin, kita bareng aja."

Di perkuliahan, semua itu jarang kita dengar, bahkan terkadang nggak ada.

Semuanya beda….

Kuliah itu :

"Tugasku udah." tanpa tanda tanya

"Dataku udah mau aku kumpulin." tanpa ajakan

"Aku nggak tau kalo kamu nggak tau, sorry ya…" tanpa tawaran

Hasil survey sih banyak yang ngrasain perbedaan di sekolah dengan di perkuliahan. Tapi entahlah buat kalian. Apa kalian ngerasain hal yang sama? Atau mungkin kalian masih nemuin orang-orang baik di perkuliahan? Bersyukurlah kalian yang masih menemukan sahabat.

Yang aku temuin di kampus hanyalah segelintir orang yang masih peduli dan baik dengan temannya. Yang masih peduli dengan kelangsungan hidup teman sekelasnya di mata dosen. Two thumbs buat kalian :) 

Aku juga ngerasain perbedaan dalam pertemanan antara di sekolah dan perkuliahan. Jaman sekolah dulu, apalagi di SMK Telkom, aku ngerasain pertemanan yang begitu hangat, akrab, dan menyenangkan. Jarang ngerasain marah, berantem bahkan musuhan. Di perkulihan, hampir 5 semester aku laluin, aku ngerasa belum berani mengungkapkan ‘dia sahabatku’. Meskipun kita akrab, sering jalan bareng, ke mana-mana bareng, tapi untuk menjadi best friends isn’t easy. Hanya beberapa orang yang bisa aku anggap mereka teman baikku :) Kita banyak kesamaan, sama dalam berpikir, kesenangan, tipe, bahkan kesamaan seneng main dan jajan :D

Sahabat masa sekolah berasa udah kaya keluarga. kita udah pisah lebih dari 2 tahun tapi masih intens berkabar, hal itu yang selalu bikin kita ngerasa deket, meskipun kita pisah-pisah kota.

image

image

image

Beda sama teman di perkuliahan, kebanyakan dari mereka dateng dan pergi sesuka hati mereka. Deket kalo ada butuhnya doang. 

Tapi, aku harap aku bisa nemuin sahabat di perkuliahan. Dan ego yang tinggi akan melebur perlahan :)

image

  • 6th August
    2014
  • 06
mbeeer:

Sebelumnya, maaf, izinkan gue yg udah terlanjur manis ini menjawab pertanyaan kamu ini dari sisi para pria. Pun mewakili para pihak yg dianggap pergi setelah terlanjur mencuri hati. Tsaaaaah…
Kasus ini biasanya paling sering terjadi. Gue pun harus mengakui bahwa gue juga pernah ada di posisi ini. Di posisi sebagai seorang pria yg harus pergi. 
Jika diharuskan untuk memilih antara pilihan Mengejar dan Dikejar. Tentu gue akan memilih opsi Mengejar. Karena itu memang sudah takdir para pria— sehebat apapun emansipasi wanita hingga hari ini.
Tapi,Gue akan mengejar seseorang yg mau menengok, memanggil, lalu kemudian memberi semangat sama gue. Ketimbang mengejar seseorang yg selalu ingin dikejar, dan ingin diperjuangkan tanpa mau sedikitpun memberi peluang. 
Mungkin bagi para wanita, berlaku “Jual Mahal" adalah cara yg dilakukan dengan maksud memberi sebuah ujian terhadap para pria yg hendak mendapatkan dirinya. Guna mencari tahu, sehebat apakah ia akan berjuang demi dirinya.
But girls, If you like us too, please give us a chance, not a test.
Bukan bermaksud untuk manja, bukan.Namun, untuk mencari keseriusan seorang pria bukanlah dengan cara seperti itu. 
Bagi pria, sikap jual mahalmu itu bisa dianggap sebagai tanda bahwa dirinya tidak diterima dalam kehidupanmu. Maka sebagai seorang pria yg tahu diri, ia memilih berhenti mengejar karena tidak ingin mengganggu hidupmu. 
Ia berjuang terus, namun kamu tetap dingin. Lantas apakah salah jika ia memilih berhenti berjuang, karena merasa mengejarmu itu adalah sebuah ketidaknyamanan bagi dirimu sendiri?
Lalu kamu yg merasa tidak kembali dikejar, mulai berfikir bahwa dia adalah lelaki yg tidak memperjuangkan seseorang yg diinginkannya? Please, girl. Dont be a b*tch!
Mengutip kata-kata Zarry Hendrik, “jangan karena kamu wanita, kamu ogah tuk memperjuangkan. sebab di mana-mana cinta ialah sama, butuh perjuangan yang sama-sama.”
Tenang saja, Bagi kami, para pria, wanita yg memberi peluang dengan cara menerima orang yg mengejarnya adalah wanita yg benar-benar luar biasa. Dan tak pernah terpikir sedikitpun dalam benak kami bahwa tindakan itu adalah tindakan yg norak/merendahkan martabat kalian sebagai seorang wanita.
Jual mahal itu bukanlah cara agar kalian terlihat mahal bagi dirinya sehingga ia memperjuangkanmu di atas semua. 
Karena pria akan memperjuangkan seseorang yg mau diperjuangkan. Bukan yg ingin diperjuangkan tapi tak bersikap selayaknya ingin diperjuangkan.
Buatlah lubang, maka kami akan berjuang untuk melompatinya.Buatlah jurang, maka kami akan berfikir bahwa kalian menolak untuk diperjuangkan.
btw, ini juga berhubungan dengan quote gue sebelumnya.

Aku bukannya menyerah, namun sikapmu kadang membuatku ragu perihal kau ini menerimaku ataukah tidak?

.
Dan kepada para wanita yg memberi peluang,
Jadi mulai sekarang jangan salah kaprah pada omongan pria yg berkata, “Gue lebih senang dekat sama cewek yg gak gampang buat didapetin, ada tantangannya”.
Itu bukan mengartikan kamu harus jadi wanita yg jual mahal, Bukan. Tapi itu mengartikan jadilah wanita yg tau titik di mana harus menggunakan sistem “Tarik-Ulur” tepat pada waktunya.
Nah jadi jika kamu juga suka, yuk kita sama-sama berjuang. Toh ini juga buat masa depan kita berdua, kan? :)

mbeeer:

Sebelumnya, maaf, izinkan gue yg udah terlanjur manis ini menjawab pertanyaan kamu ini dari sisi para pria. 
Pun mewakili para pihak yg dianggap pergi setelah terlanjur mencuri hati. Tsaaaaah…

Kasus ini biasanya paling sering terjadi. Gue pun harus mengakui bahwa gue juga pernah ada di posisi ini. Di posisi sebagai seorang pria yg harus pergi. 

Jika diharuskan untuk memilih antara pilihan Mengejar dan Dikejar. Tentu gue akan memilih opsi Mengejar. Karena itu memang sudah takdir para pria— sehebat apapun emansipasi wanita hingga hari ini.

Tapi,
Gue akan mengejar seseorang yg mau menengok, memanggil, lalu kemudian memberi semangat sama gue. 
Ketimbang mengejar seseorang yg selalu ingin dikejar, dan ingin diperjuangkan tanpa mau sedikitpun memberi peluang. 

Mungkin bagi para wanita, berlaku “Jual Mahal" adalah cara yg dilakukan dengan maksud memberi sebuah ujian terhadap para pria yg hendak mendapatkan dirinya. Guna mencari tahu, sehebat apakah ia akan berjuang demi dirinya.

But girls, 
If you like us too, please give us a chance, not a test.

Bukan bermaksud untuk manja, bukan.
Namun, untuk m
encari keseriusan seorang pria bukanlah dengan cara seperti itu. 

Bagi pria, sikap jual mahalmu itu bisa dianggap sebagai tanda bahwa dirinya tidak diterima dalam kehidupanmu. Maka sebagai seorang pria yg tahu diri, ia memilih berhenti mengejar karena tidak ingin mengganggu hidupmu. 

Ia berjuang terus, namun kamu tetap dingin. Lantas apakah salah jika ia memilih berhenti berjuang, karena merasa mengejarmu itu adalah sebuah ketidaknyamanan bagi dirimu sendiri?

Lalu kamu yg merasa tidak kembali dikejar, mulai berfikir bahwa dia adalah lelaki yg tidak memperjuangkan seseorang yg diinginkannya? 

Please, girl. 
Dont be a b*tch!

Mengutip kata-kata Zarry Hendrik, jangan karena kamu wanita, kamu ogah tuk memperjuangkan. sebab di mana-mana cinta ialah sama, butuh perjuangan yang sama-sama.

Tenang saja, 
Bagi kami, para pria, wanita yg memberi peluang dengan cara menerima orang yg mengejarnya adalah wanita yg benar-benar luar biasa. Dan tak pernah terpikir sedikitpun dalam benak kami bahwa tindakan itu adalah tindakan yg norak/merendahkan martabat kalian sebagai seorang wanita.

Jual mahal itu bukanlah cara agar kalian terlihat mahal bagi dirinya sehingga ia memperjuangkanmu di atas semua. 

Karena pria akan memperjuangkan seseorang yg mau diperjuangkan. Bukan yg ingin diperjuangkan tapi tak bersikap selayaknya ingin diperjuangkan.

Buatlah lubang, maka kami akan berjuang untuk melompatinya.
Buatlah jurang, maka kami akan berfikir bahwa kalian menolak untuk diperjuangkan.

btw, ini juga berhubungan dengan quote gue sebelumnya.

Aku bukannya menyerah, namun sikapmu kadang membuatku ragu perihal kau ini menerimaku ataukah tidak?

.

Dan kepada para wanita yg memberi peluang,

Jadi mulai sekarang jangan salah kaprah pada omongan pria yg berkata, “Gue lebih senang dekat sama cewek yg gak gampang buat didapetin, ada tantangannya”.

Itu bukan mengartikan kamu harus jadi wanita yg jual mahal, Bukan. Tapi itu mengartikan jadilah wanita yg tau titik di mana harus menggunakan sistem “Tarik-Ulur” tepat pada waktunya.

Nah jadi jika kamu juga suka, yuk kita sama-sama berjuang. Toh ini juga buat masa depan kita berdua, kan? :)

  • 9th July
    2014
  • 09
Sejauh-jauhnya kamu pergi dengan segala benci, sedikitpun aku tak punya hati untuk mencaci. Karena biar bagaimanapun, bersamamu dulu aku pernah semangat menyambut hari.
(via mbeeer)

(via lorosanga)

  • 9th July
    2014
  • 09
  • 4th July
    2014
  • 04

Ayah…Ibu…. Untuk saat ini aku belum bisa membanggakan kalian.

Tapi…. Aku berjanji, suatu saat nanti aku akan bisa membuat kalian bangga dan menitikkan air mata bahagia melihatku sukses nanti :’)

  • 4th July
    2014
  • 04
Suatu saat nanti aku akan mampu meninggalkanmu.
Menemukan orang baik yg lebih baik darimu.
Dan menjadikannya tempat pulang yg dulu ditempati kamu.

Walau aku tau, kamu sudah lebih dulu mencapai semuanya ketimbang aku.
(via mbeeer)

(via cunong)